Merdeka Air Bersih bukan sekadar slogan. Di balik air yang mengalir dari keran, sumur, atau tandon rumah, ada persoalan besar yang masih dihadapi Indonesia: memastikan setiap warga bisa mendapatkan air yang layak, aman, dan berkelanjutan. Setiap tanggal 17 Agustus, Indonesia kembali merayakan kemerdekaan. Bendera Merah Putih berkibar, berbagai perlombaan digelar, dan kata “merdeka” muncul hampir di setiap sudut ruang publik.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang ikut dibicarakan: Seberapa merdeka masyarakat Indonesia jika untuk mendapatkan air bersih saja masih menjadi persoalan?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika melihat data nasional.
Hampir 93 Persen Sudah Punya Akses, Tapi Masih Ada yang Tertinggal
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 92,64 persen rumah tangga Indonesia memiliki akses terhadap sumber air minum layak pada 2024. Angka tersebut menunjukkan kemajuan. Tetapi di sisi lain, masih ada sekitar 7,36 persen rumah tangga yang belum memiliki akses air minum layak. Jika angka persentase diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari, persoalannya menjadi jauh lebih nyata.
Ada keluarga yang harus mengambil air dari lokasi yang cukup jauh. Ada warga yang mengandalkan sumber air yang kualitasnya berubah ketika musim kemarau datang. Ada pula masyarakat yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air yang lebih layak digunakan. Karena itu, angka 92,64 persen tidak seharusnya hanya dibaca sebagai statistik keberhasilan. Di balik 7,36 persen yang belum terjangkau, ada pekerjaan rumah yang belum selesai.
Air Bersih Bukan Kemewahan
Air sering kali baru terasa penting ketika tidak tersedia. Ketika keran mengalir setiap hari, air bersih terasa seperti sesuatu yang biasa. Namun ketika sumur mengering, distribusi air terganggu, atau kualitas air berubah, barulah masyarakat menyadari betapa besar ketergantungan kehidupan sehari-hari terhadap sumber daya tersebut.
Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci, menjaga kebersihan rumah, hingga mendukung aktivitas ekonomi. Artinya, akses air bukan hanya persoalan infrastruktur. Ia berkaitan langsung dengan kesehatan, pendidikan, produktivitas, ekonomi keluarga, dan kualitas hidup.
BPS sendiri mendefinisikan akses air minum layak sebagai akses terhadap sumber air yang memenuhi kriteria tertentu, termasuk sumber yang aman, memadai, dan mudah diakses. Karena itu, membicarakan “Merdeka Air Bersih” sebenarnya adalah membicarakan bagaimana masyarakat dapat menjalani kehidupan secara layak tanpa harus terus-menerus khawatir mengenai kebutuhan paling dasar.
Kemerdekaan Tidak Berhenti di Jalan dan Listrik
Selama ini pembangunan sering terlihat melalui hal-hal yang mudah dilihat: jalan baru, jembatan, gedung sekolah, jaringan listrik, hingga akses internet.
Air bersih berbeda.
Infrastruktur air sering kali berada “di bawah tanah” atau tidak terlihat secara langsung. Pipa berada di dalam tanah, instalasi pengolahan berada di lokasi tertentu, sementara jaringan distribusi harus menjangkau rumah-rumah masyarakat.
Padahal dampaknya sangat terasa. Ketika pasokan air tersedia dan berkualitas, masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang.
Sebaliknya, ketika akses air terbatas, persoalannya bisa merembet ke banyak aspek kehidupan. Inilah mengapa kemerdekaan air bersih seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan manusia, bukan sekadar proyek infrastruktur.
Tantangan Terbesarnya Bukan Sekadar Menambah Persentase
Pemerintah telah menetapkan target yang cukup ambisius dalam RPJMN 2025–2029, yakni 100 persen akses air minum layak dan 43 persen akses air minum aman pada 2029. Target tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan belum berhenti ketika akses air minum layak mendekati 100 persen. Sebab ada perbedaan penting antara air minum layak dan air minum aman.
Air minum layak berkaitan dengan sumber air yang memenuhi kriteria akses tertentu. Sementara konsep air minum aman menuntut standar yang lebih tinggi, termasuk aspek kualitas dan pengelolaan yang lebih ketat. Dengan kata lain, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya membuat air “tersedia“.
Pertanyaannya adalah: Apakah air tersebut benar-benar berkualitas, berkelanjutan, mudah diakses, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat?
Ketimpangan Akses Masih Menjadi Tantangan
Indonesia bukan negara kecil dengan kondisi geografis yang sederhana. Ada kawasan perkotaan yang berkembang sangat cepat, wilayah perdesaan yang jauh dari pusat layanan, daerah kepulauan, hingga wilayah yang menghadapi persoalan sumber air dan infrastruktur. Kondisi tersebut membuat persoalan air bersih tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan yang sama untuk seluruh daerah.
Pipa air mungkin menjadi solusi di kawasan padat penduduk. Namun di wilayah lain, masyarakat bisa membutuhkan sumur, pengolahan air, penampungan, jaringan distribusi lokal, atau sistem berbasis komunitas.
Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas), misalnya, menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk memperluas akses air minum dengan melibatkan masyarakat dalam pembangunan dan keberlanjutan sarana. Ini menunjukkan bahwa persoalan air bersih membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan fisik.
Ada persoalan tata kelola, pembiayaan, pemeliharaan, kualitas sumber air, hingga partisipasi masyarakat.
Dari “Punya Air” Menjadi “Punya Air yang Aman”
Di era ketika masyarakat bisa memesan makanan, kendaraan, hingga berbagai kebutuhan hanya melalui ponsel, kebutuhan dasar seperti air seharusnya tidak menjadi sesuatu yang sulit dipenuhi. Namun teknologi digital tidak otomatis menyelesaikan persoalan air. Justru perkembangan teknologi membuat standar kehidupan masyarakat ikut berubah.
Masyarakat kini semakin mudah mencari informasi mengenai kualitas air, filter air, air minum, hingga teknologi pengolahan air. Pada saat yang sama, kesadaran mengenai kesehatan dan kualitas lingkungan juga semakin meningkat.
Karena itu, masa depan sektor air tidak hanya bergantung pada pembangunan jaringan pipa. Teknologi pengolahan, sensor kualitas air, sistem monitoring, pengelolaan sumber air, hingga inovasi pembiayaan akan semakin penting.
Kementerian PU mencatat kebutuhan investasi sektor air minum dalam RPJMN 2025–2029 mencapai sekitar Rp157,2 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa menyediakan akses air secara nasional membutuhkan investasi dan kolaborasi dalam skala besar.
Lalu, Apa Arti “Merdeka Air Bersih”?
Merdeka air bersih bukan berarti setiap rumah harus memiliki keran dengan air yang langsung bisa diminum. Maknanya jauh lebih fundamental.
- Merdeka air bersih berarti masyarakat tidak kehilangan kesempatan hidup sehat hanya karena tempat tinggalnya menentukan apakah air tersedia atau tidak.
- Merdeka air bersih berarti anak-anak tidak harus kehilangan waktu belajar karena harus membantu keluarga mencari air.
- Merdeka air bersih berarti keluarga tidak terus-menerus menghadapi biaya tambahan ketika sumber air mengalami masalah.
Dan yang paling penting, merdeka air bersih berarti akses terhadap kebutuhan dasar tidak boleh menjadi privilese bagi mereka yang tinggal di wilayah atau kondisi ekonomi tertentu.
Kemerdekaan yang Bisa Dimulai dari Air
Perayaan kemerdekaan biasanya mengingatkan masyarakat pada perjuangan para pendahulu. Tetapi kemerdekaan juga memiliki makna yang terus berkembang.
Jika generasi sebelumnya berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan, generasi hari ini menghadapi tantangan yang berbeda: bagaimana memastikan pembangunan membuat kehidupan masyarakat benar-benar lebih layak.
Air bersih adalah salah satunya.
Indonesia memang telah mencatat kemajuan. Data BPS menunjukkan akses air minum layak sudah mencapai 92,64 persen pada 2024. Namun angka tersebut sekaligus mengingatkan bahwa masih ada jutaan rumah tangga yang membutuhkan perhatian dan layanan yang lebih baik. Target 100 persen akses air minum layak pada 2029 memberi arah yang jelas.
Tetapi mencapai target tersebut bukan hanya tugas pemerintah.
Masyarakat, dunia usaha, pengelola layanan air, komunitas, akademisi, dan berbagai pihak lain memiliki peran dalam menjaga sumber air sekaligus memastikan infrastruktur yang dibangun dapat bertahan dalam jangka panjang. Sebab pada akhirnya, kemerdekaan tidak hanya tentang bebas dari penjajahan.
Kemerdekaan juga tentang kemampuan setiap orang untuk menjalani hidup dengan layak. Dan untuk banyak keluarga, hidup yang layak itu dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: Air bersih yang bisa diakses setiap hari.
Catatan data: Angka 92,64 persen merupakan capaian akses air minum layak 2024 berdasarkan data BPS yang dikutip Kementerian PU/ANTARA. Untuk 2025, BPS telah menyediakan tabel statistik nasional terbaru mengenai akses sumber air minum layak, tetapi saya sengaja tidak mencampurkan angka dari sumber sekunder yang belum terverifikasi langsung agar artikel tetap akurat.



