Banjir Saat Hujan tapi Kekurangan Air Saat Kemarau, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ketika Air Terlalu Banyak Saat Hujan, tetapi Terasa Tidak Ada Saat Kemarau

Hujan deras datang, jalan berubah menjadi sungai, drainase meluap, bahkan beberapa wilayah mengalami banjir. Tetapi beberapa bulan kemudian, ketika musim kemarau tiba, persoalannya justru berbalik. Sumur mulai surut, debit mata air berkurang, dan kebutuhan air semakin sulit dipenuhi.

Kalau air yang turun begitu banyak saat musim hujan, mengapa tidak semuanya tersimpan untuk menghadapi musim kemarau?

Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami satu hal penting dalam siklus air: air yang turun dari langit belum tentu menjadi air yang tersimpan di dalam tanah. Sebagian air hujan mengalir di permukaan, sebagian menguap, sebagian dimanfaatkan tanaman, dan hanya sebagian yang berhasil meresap cukup jauh hingga berkontribusi terhadap pengisian air tanah.

Mengapa Hujan Deras Tidak Otomatis Menambah Air Tanah?

Hujan memang menjadi salah satu sumber utama pengisian kembali air tanah. Namun, jumlah hujan yang turun tidak sama dengan jumlah air yang berhasil masuk ke akuifer.

Hujan Turun Lebih Cepat daripada Kemampuan Tanah Menyerap

Tanah memiliki kemampuan tertentu untuk menerima air. Ketika intensitas hujan sangat tinggi, air dapat datang lebih cepat daripada kemampuan permukaan tanah untuk menyerapnya. Kelebihan air kemudian berubah menjadi limpasan permukaan.

Air Hujan Memiliki Banyak Jalur Setelah Menyentuh Tanah

Setelah mencapai permukaan, air dapat mengambil beberapa jalur berbeda:

  • meresap ke tanah;
  • mengalir di permukaan;
  • masuk ke sungai dan drainase;
  • menguap;
  • diserap tanaman;
  • tersimpan sementara di lapisan tanah.

Karena itu, volume hujan tidak dapat langsung dianggap sebagai tambahan cadangan air tanah.

Dari Langit ke Akuifer: Perjalanan Air Tidak Sesederhana yang Dibayangkan

Air yang berhasil masuk ke tanah masih belum tentu menjadi air tanah yang dapat dimanfaatkan.

Infiltrasi Hanya Tahap Awal

Infiltrasi merupakan proses ketika air memasuki permukaan tanah. Setelah itu, air harus bergerak melalui pori-pori tanah dan lapisan bawah permukaan.

Air Harus Mencapai Zona Jenuh

Air yang berada di lapisan tanah tidak jenuh masih dapat digunakan tanaman atau bergerak ke arah lain. Untuk menjadi bagian dari air tanah, air perlu mencapai zona jenuh yang berkaitan dengan sistem akuifer.

Akuifer Tidak Selalu Berada Dekat Permukaan

Kondisi geologi setiap wilayah berbeda. Ada akuifer dangkal yang relatif mudah menerima recharge, tetapi ada pula sistem air tanah yang berada lebih dalam dan memiliki jalur pergerakan yang jauh lebih kompleks.

Jadi, ketika genangan menghilang setelah hujan, jangan langsung beranggapan bahwa air tersebut sudah “masuk ke tanah”. Bisa jadi air itu sudah pergi melalui jalur yang sama sekali berbeda.

Apa yang Bisa Dilakukan agar Air Hujan Tidak Langsung Hilang?

Jika masalahnya adalah air terlalu cepat meninggalkan kawasan, maka pendekatannya bukan sekadar memperbesar saluran pembuangan.

Mempertahankan Ruang Terbuka

Area tanah terbuka memberikan kesempatan bagi air untuk meresap secara alami.

Menambah Area Hijau

Vegetasi membantu memperlambat aliran air sekaligus mendukung fungsi tanah sebagai media penyimpan air.

Menggunakan Infrastruktur Resapan

Sumur resapan, taman hujan, biopori, kolam infiltrasi, dan pendekatan pengelolaan air hujan lainnya dapat digunakan sesuai kondisi lokal.

Menampung Air Hujan

Air hujan juga dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu sehingga tidak seluruhnya menjadi limpasan.

Air Hujan Seharusnya Dipandang sebagai Cadangan, Bukan Sekadar Limpasan

Perspektif terhadap hujan perlu bergeser.

Hujan bukan hanya sesuatu yang harus segera dibuang ketika berlebihan. Sebagian air hujan merupakan peluang untuk mengisi kembali sistem penyimpanan alami.

Dari “Membuang Air” Menjadi “Mengelola Air”

Pendekatan modern terhadap pengelolaan air hujan semakin menekankan bagaimana air dapat ditahan, dimanfaatkan, disaring, dan diinfiltrasikan secara aman.

Kota Membutuhkan Ruang untuk Menyimpan Air

Ruang terbuka, area hijau, permukaan permeabel, kolam retensi, dan infrastruktur resapan dapat menjadi bagian dari jaringan penyimpanan air perkotaan.

Air yang Banyak Belum Tentu Menjadi Cadangan

Banjir saat musim hujan dan kekurangan air saat kemarau bukanlah dua fenomena yang selalu berdiri sendiri. Keduanya dapat berkaitan dengan bagaimana suatu wilayah mengelola perjalanan air.

Ketika hujan turun sangat deras, air dapat datang dalam jumlah besar tetapi mengalir terlalu cepat di permukaan. Ketika musim kemarau tiba, air yang seharusnya menjadi cadangan mungkin tidak cukup karena hanya sebagian yang berhasil disimpan di dalam tanah.

Pada akhirnya, persoalan air bukan hanya tentang berapa banyak hujan yang turun, tetapi juga berapa banyak air yang berhasil dipertahankan dalam sistem alam.

Karena itu, menghadapi banjir dan kekeringan tidak cukup hanya dengan membuang air secepat mungkin saat hujan. Tantangan yang sama pentingnya adalah menciptakan lebih banyak kesempatan agar sebagian air dapat disimpan, meresap, dan tetap tersedia ketika hujan sudah berhenti.

Air yang jatuh hari ini bisa menjadi masalah saat ini atau menjadi cadangan untuk menghadapi kemarau, tergantung bagaimana kita membiarkannya bergerak.

Scroll to Top